Layla’s Father Weblog

Lets Back To The Fahm Of Shahabah

Archive for May 2008

Tentang FreeMasonry

leave a comment »

Begini ceritanya, kemarin Dr. Ssuna Salim, Dosen Ghazwul Fikri bertanya kepada qt tentang gerakan ini, terutama hubungannya dengan Kekhalifahan Turki Utsmani, kenapa gimana gituh, lupa lagi. Abiss, beliau ngomongnya cepet banget terus berhubung dengan kondisi koneksi internet di Indonesia yang sering putus2 gituh, yah dengan sangat terpaksa kami tidak bisa menjawab pertanyaan beliau(alaaaah, bilang aja emang ga tau jawabannya, susah amit sich:-)) Trus, ya alhamdulillah dapet artikel ini di milis Mediu, isinya tentang penjelasan FreeMasonry dalam bahasa Indonesia, bahasa persatuan, karena ga mungkin dunkz saya menulis postingan ini dalam bahasa Arab, berhubung bahasa ini masih asing di peradaban indonesia qt pada masa2 sekarang ini. Ya weis, selamat menyimak aja deh…

<!– DIV {margin:0px;}–>

Mengenal Firqah-Firqah Yahudi

FREEMASONRY

Freemasonry secara bahasa terdiri dari dua kata, Free dan Mason. Free artinya merdeka dan mason artinya tukang bangunan. Dengan demikian Freemasonry secara etimologis berarti “tukang-tukang bangunan yang merdeka”.

Secara hakikat, Freemasonry atau Al-Masuniyyah (dalam bahasa Arab) adalah sebuah organisasi Yahudi Internasional bawah tanah yang tidak ada hubungannya dengan tukang-tukang bangunan yang terdapat pada abad pertengahan.

Freemasonry di atas juga tidak ada hubungannya dengan kegiatan pembangunan kapal atau katedral besar seperti yang banyak diduga oleh sebagian orang. Tetapi maksud Freemasonry di sini adalah tidak terikat dengan ikatan pihak manapun kecuali sesama freemason.

Freemasonry berasal dari gerakan rahasia yang dibuat oleh sembilan orang Yahudi di Palestina pada tahun 37 M, yang dimaksudkan sebagai usaha untuk melawan pemeluk Masehi, dengan cara pem­bunuhan terhadap orang per-orang.

Me­nu­rut buku Kabut-kabut Freemasonry, salah seorang yang disebut sebagai pendirinya adalah Herodes Agrida I (meninggal 44 M). Ia dibantu oleh dua orang Yahudi, Heram Abioud dan Moab Leomi. Freemasonry selanjutnya menempatkan dirinya sebagai musuh terhadap agama Masehi maupun Islam.

Pada tahun 1717 M gerakan rahasia ini melangsungkan seminar di London di bawah pimpinan Anderson. Ia secara formal menjabat sebagai kepala gereja Protestan, namun pada hakikatnya adalah seorang Yahudi. Dalam seminar inilah gerakan rahasia tersebut memakai nama Freemasonry sebagai nama barunya. Sebagai pendirinya adalah Adam Wishaupt, seorang tokoh Yahudi dari London, yang kemudian mendapatkan dukungan dari Albert Pike, seorang jenderal Amerika (1809-1891).

Organisasi ini sulit dilacak karena struktur­nya sangat rahasia, teratur, dan rapi. Tujuan gerakan Freemasonry secara umum adalah:

1. Menghapus semua agama.

2. Menghapus sistem keluarga.

3. Mengkucarkacirkan sistem politik dunia.

4. Selalu bekerja untuk menghancurkan kesejahteraan manusia dan merusak kehidupan politik, ekonomi, dan sosial negara-negara non-Yahudi atau Goyim (sebutan dari bangsa lain di luar Yahudi).

Tujuan akhir dari gerakan Freemason adalah mengembalikan bangunan Haikal Sulaiman yang terletak di Masjid Al-Aqsha, di kota Al-Quds (Yerussalem), mengibarkan bendera Israel, serta mendirikan pemerintahan Zionis Internasional, seperti yang diterapkan dalam Protokol para cendekiawan Zionis.

Buku Protokol ini berisikan langkah-langkah yang telah ditetapkan oleh para hakkom, catatan pembicaraan yang dilakukan di dalam setiap rapat mereka, serta berisikan 24 bagian (ayat) yang mencakup rencana politik, ekonomi, dan keuangan, dengan tujuan menghancurkan setiap bangsa dan pemerintahan non-Yahudi, serta menyiapkan jalan penguasaan bagi orang-orang Yahudi terhadap dunia Internasional.

Dalam gerakannya, Freemasonry menggunakan tangan-tangan cendekiawan dan hartawan Goyim, tetapi di bawah kontrol orang Yahudi pilihan. Hasil dari gerakan ini di antaranya adalah mencetuskan tiga perang dunia, tiga revolusi (Revolusi Perancis, Revolusi Amerika, dan Revolusi Industri di Inggris), melahirkan tiga gerakan utama (Zionisme, Komunisme, dan Nazisme)

Freemansory terbagi ke dalam tiga tingkatan:
(1) Majelis Rendah atau Freemansory Simbolis;
(2) Fremansory Majelis Menengah; dan
(3) Fremansory Majelis Tinggi.

Dalam penerimaan keanggotaan, Freemasonry tidak mempersoal­kan agama calon anggota. Bahkan calon anggota disumpah sesuai dengan agama yang dianutnya. Dalam Freemasonry diadakan model kenaikan pangkat hingg level ke-33 bagi orang-orang Goyim. Orang-orang yang berhasil dijaring kemudian diberikan tugas untuk menyebarkan paham Freemasonry dan bekerja untuk mereali­sasikan tujuannya.

Orang-orang tertarik kepada Freemasonry karena mereka menganggap bahwa organi­sasi ini bergerak di bidang kemanusiaan. Di balik itu mereka menanamkan doktirn “Pengembangan Agama” atau “Polotisme”, yang mengatakan semua agama itu sama, baik, dan benar. Lebih jauh Freemasonry dengan secara halus membawa anggotanya memahami Atheisme.

Peranan Freemasonry dalam Meruntuhkan Khilafah Turki Utsmani

Dalam usaha menguasai Palestina, selain strategi langsung menemui Sultan Abdul Hamid II, penguasa terakhir Daulah Turki Utsmani yang paling terkemuka.. Kaum Yahudi-Zionis juga melancarkan strategi tidak langsung melalui gerakan Freemansory. Gerakan ini memiliki hubungan yang sangat kuat dengan organisasi “Ittihat ve Terrakki” (Al-Ittihad wa At-Tarraqqi; Persatuan dan Kemajuan) yang berkembang sangat pesat di Salonika, Yunani.

Anggota-anggota Komite Persatuan dan Kemajuan, yang dikenal sebagai kelompok Turki Muda (Young Turks), diketahui sangat dekat dengan militer dan banyak anggota-anggotanya yang merupakan orang Yahudi (Jews) dan Cryto Jews Salonika. Untuk menjalankan roda organisasi, mereka mendapatkan dukungan finansial dari orang-orang Dunama, yaitu sekelompok Yahudi yang masuk Islam, namun secara diam-diam tetap mempertahankan keyahudiannya.

Komite Persatuan dan Kemajuan sesuai dengan program utamanya yang dipublikasi­kan, berusaha kuat menekan Sultan Abdul Hamid II untuk memberlakukan kembali Konstitusi 1879 yang dirancang oleh Midhat Pasha seorang Dunama anggota Freemasonry. Usaha ini berhasil sehingga Sultan Abdul Hamid II memberlakukan kembali perlembagaan 1879 dan membentuk kembali parlemen yang sudah dibubarkan.

Pemberlakuan kembali perlembagaan 1879 telah menyulut kerusuhan yang terjadi pada tanggal 13 April 1909 yang menunjukkan penolakan masyarakat yang mayoritas Muslim terhadap kekuasaan Komite Persatuan dan Kemajuan sekaligus wujud kebencian terhadap Freemasonry, terutama dari kalangan ulama. Para ulama menilai bahwa perlembagaan 1879 dapat membawa Khilafah Utsmaniyah ke arah sekularisme dan pemberangusan terhadap syariat Islam.

Untuk “memulihkan ketertiban”, para pejabat militer Macedonia mengirimkan pasukan Harekat Ordusu dari Salonika.

Akan tetapi pasukan yang dipimpin oleh Dunama-Freemason bernama Ramzy Bey ini malah berbalik menyerang kedudukan Sultan dan menghancurkan barikade-barikade pertahanan para penentang konstitusi. Akibat peristiwa ini kemudian dipecatnya Sultan Abdul Hamid II dari kedudukannya sebagai Sultan-Khalifah oleh parlemen.

Terhadap peristiwa pemecatan ini, Sultan Abdul Hamid II menuding kelompok Yahudi sebagai pihak yang bertanggung jawab. Hal ini terungkap dalam surat Sultan Abdul Hamid II kepada salah seorang gurunya, Syekh Mahmud Abu Syamad, yang berbunyi:

“…Saya meninggalkan kekhalifahan bukan karena suatu sebab tertentu, melainkan karena tipu daya dengan berbagai ancaman dari tokoh-tokoh Organisasi Persatuan yang dikenal dengan sebutan Cun Turk (Jeune Turk), sehingga terpaksa saya meninggalkan kekhalifahan itu. Sebelum­nya, organisasi ini telah mendesak saya berulang-ulang agar menyetujui dibentuknya sebuah negeri nasional bagi bangsa Yahudi di Palestin. Saya tetap tidak menyetujui permohonan berulang-ulang yang memalukan ini. Akhirnya mereka menjanji­kan uang sebesar 150 juta poun­sterling emas. Saya tetap dengan tegas meno­lak tawaran itu. Saya menjawab dengan kata-kata,

~ Seandainya kalian membayar dengan seluruh isi bumi ini, aku tidak akan menerima tawaran itu. Tiga puluh tahun lebih aku hidup mengabdi kepada kaum Muslimin dan kepada Islam itu sendiri. Aku tidak akan mencoreng lembaran sejarah Islam yang telah dirintis oleh nenek moyangku, para Sultan dan Khalifah Uthmaniah. Sekali lagi aku tidak akan menerima tawaran kalian ~

Setelah mendengar dan mengetahui sikap dari jawaban saya itu, mereka dengan ke­kuatan rahsia yang dimiliki memaksa saya menanggalkan kekhalifahan, dan mengan­cam akan mengasingkan saya di Salonika. Maka terpaksa saya menerima keputusan itu daripada menyetujui permintaan mereka.

Saya banyak bersyukur kepada Allah, ka­rena saya menolak untuk mencoreng Daulah Utsmaniyah, dan dunia Islam pada umum­nya dengan noda abadi yang diakibatkan oleh berdirinya negeri Yahudi di tanah Palestina. Biarlah semua berlalu. Saya tidak bosan-bosan mengulang rasa syukur kepada Allah Ta’ala, yang telah menyelamatkan kita dari aib besar itu. Saya rasa cukup di sini apa yang perlu saya sampaikan dan sudilah anda dan segenap ikhwan menerima

salam hormat saya. Guruku Yang Mulia, mungkin sudah terlalu banyak yang saya sampaikan. Harapan saya, Anda beserta jamaah yang Anda bina bisa memaklumi semua itu.

Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

22 September 1909

ttd
Pelayan Kaum Muslimin,

Abdul Hamid bin Abdul Majid
(Carr, 1991:21)

Penurunan Sultan Abdul Hamid II dari kedudukannya sebagai Sultan-Khalifah menandai berkuasanya Komite Persatuan dan Kemajuan secara langsung dalam pemerintahan Uthmaniah. Untuk melempangkan kekuasaan­nya, maka kemudian Komite Persatuan dan Kemajuan mengambil garis tegas untuk menjalankan ide Turanisme (Nasionalisme Turki) di berbagai bidang.

Sementara itu, pada tanggal 21 November terjadi perjanjian antara Inggris dan Turki untuk membahas penyelesaian masalah Turki. Dalam kesempatan tersebut Inggris mengaju­kan syarat-syarat agar pasukannya dapat ditarik dari wilayah Turki, yang dikenal dengan “Perjanjian Luzon”, yaitu:

1. Turki harus menghapuskan Khilafah Islamiyah serta mengusir khalifahnya dan menyita semua harta kekayaannya.

2. Turki harus berjanji untuk menghalangi setiap gerakan yang membela kekhalifahan.

3. Turki harus memutuskan hubungannya dengan dunia Islam.

4. Turki harus menerapkan hukum sipil sebagai pengganti hukum Daulah Utsmaniyah yang bersumberkan Islam.

Persyaratan tersebut diterima oleh Musthafa Kamal dan perjanjian ditandatangani pada tanggal 24 Juli 1923. Dan akhirnya, setelah melalui perdebatan alot dan tekanan pada tanggal 3 Maret 1924, Majlis Raya Nasional menghapus jabatan Khalifah, dan khalifah waktu itu, Sultan Abdul Majid II diusir ke luar negeri.

Penghapusan khilafah ini kemudian diikuti dengan pemberangusan segala unsur Islam dalam masyarakat. Dari mulai penutupan dan pengalihfungsian masjid-masjid, pelarangan penggunaan bahasa Arab, tulisan Arab dan pakaian Muslim, hingga penghapusan Mah­kamah Syariah dan perubahan penanggalan ke kalender Masehi. Dengan demikian berakhirlah Khilafah Turki Utsmani yang telah dipertahankan selama sekitar 640 tahun.

Prestasi Musthafa Kamal Attaturk, agen Freemasonry dalam menghapuskan Khilfah Turki Utmani tersebut sangat dibanggakan oleh Freemasonry, hingga disebutkan dalam Ensiklopedi Freemasonry:

“Revolusi Turki (yang dimulai) pada tahun 1918 yang diprakarsai oleh saudara yang mulia Mustafa Kamal Attaturk sangat me­ngun­tungkan rakyat, melenyapkan ke­kuasaan Sultan, memberantas Khilafah, menghi­langkan Mahkamah

Syariat, menyingkirkan perananan agama Islam, dan menghapuskan kementerian Wakaf (Agama). Bukankah semua ini meru­pakan pembaruan yang dike­hen­daki Freemasonry dalam setiap bangsa yang sedang bangkit? Siapakah di antara tokoh Freemasonry yang dapat menandingi Attaturk, baik dulu maupun sekarang?” (Al-Kailani, 1992: 190).

Wallahu a’lam.

Disadur dari email Gunawan Wibisono di Milis Mediu : mediufeb08@googlegroups.com, yang entah dari mana Gunawan menyadurnya. Wallahu A’lam

Advertisements

Written by hilmanmuldani

May 16, 2008 at 7:00 am

Hati Vs Zhahir, Solusinya : Tazkiyatun Nufus

leave a comment »

Seseorang pernah memberiku sebuah nasihat. Hati2lah terhadap amal prbuatan qt, jangan sampai amal yang qt lakukan berbanding terbalik dengan semua apa2 yang ada didalam hati qt, seharusnya adalah apa2 yang ada di dalam hati qt itu jauh lebih baik daripada apa yang di luar hati qt, baik itu berupa amalan, ibadah sehari2hari atau apa lah namanya.

Memang benar, terkadang hal inilah yang luput dari perhatian qt sehari-hari. Betapa banyak orang yang sibuk memperbaiki tampilan luarnya, tanpa memperdulikan dengan apa2 yang ada di dalam hatinya, atau bhkan ada juga yang sebaliknya. Padahalnya yang seharusnya adalah qt memperbagus keduanya secara beriringan. Lalu bagaimanakan proporsi yang terbaik? Sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam : “Apabila baik hatinya, maka baik pulalah keseluruhannya” tentu yang harus qt dahulukan dari perbaikan ini adalah masalah penyucian hati, atau menurut istilah yang lebih nyar’inya, Tazkiyatun Nufus

Tentang Tazkiyatun Nufus ini sudah termaktub di kitab2 para ulama zaman baheula, yang harus qt lakukan hanyalah berittiba’ dalam menjalani semua prosesnya, yang tentunya butuh kesabaran & waktu, tidak ada yang instan dalam proses pengembangan diri & perbaikannya, smua itu butuh melalui tahapan2 yang qt harus rela untuk menjalaninya. Saya pun belum menelaah lebih jauh tentang permasalahan ini, ada baiknya apabila qt co-paz aja dari Blog tetangga :

TAZKIYATUN NUFUS

Ditulis oleh abu salma di/pada Desember 26, 2007

التزكية النفوس

Membersihkan Jiwa

Pembersihan jiwa (Tazkiyatun Nafs) ini adalah tugas Rasūlullâh Shallâllâhu ‘alaihi wa Sallam yang diberikan oleh Allôh Subhânahu wa Ta’âlâ sebagaimana firman-Nya:

هُوَ الَّذِي بَعَثَ فِي الْأُمِّيِّينَ رَسُولًا مِنْهُمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ آَيَاتِهِ وَيُزَكِّيهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَإِنْ كَانُوا مِنْ قَبْلُ لَفِي ضَلَالٍ مُبِينٍ

Dia-lah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasūl di antara mereka, yang membacakan ayat-ayatNya kepada mereka, mensucikan mereka dan mengajarkan kepada mereka Kitab dan Hikmah (As-sunnah). Dan sesungguhnya mereka sebelumnya benar-benar dalam kesesatan yang nyata”. (QS al-Jumū’ah : 2)

Dari ayat di atas, para mufassirin menerangkan bahwa di antara tugas Rasūlullâh Shallâllâhu ‘alaihi wa Sallam kepada umatnya adalah:

  1. menyampaikan ayat-ayat Allôh

  2. membersihkan atau mensucikan jiwa mereka

  3. mengajarkan kitab dan sunnah kepada mereka.

Dan dari ayat di atas juga bisa diketahui bahwa umat manusia sebelum datangnya Rasūlullâh, dalam keadaan sesat yang nyata, berupa kemusyrikan, kemerosotan akhlak dan mereka dalam puncak kejahiliyahan.

Dalam keadaan masyarakat Jahiliyah seperti itu, lalu datanglah Rasūlullâh dengan membawa Islam yang telah dinyatakan sempurna dan mendapat ridha dari Allôh Subhanâhu wa Ta’âlâ.

الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا

Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Kucukupkan kepadamu ni’matKu, dan telah Kuridhoi Islam itu jadi agama bagimu”.(Al-Mâ`idah: 3).

Tugas para Rasūl yang paling utama dan yang pertama dilakukan adalah membersihkan keyakinan-keyakinan atau aqidah dari segala bentuk kesyirikan, mengembalikan manusia dari penyembahan kepada selain Allôh Subhânahu wa Ta’âlâ kepada asalnya menyembah kepada Allôh Subhânahu wa Ta’âlâ.

وَمَا أَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ مِنْ رَسُولٍ إِلَّا نُوحِي إِلَيْهِ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنَا فَاعْبُدُونِ

Dan Kami tidak mengutus seorang Rasūlpun sebelum kamu, melainkan Kami wahyukan kepadanya : “Bahwasanya tidak ada Tuhan (yang hak) melainkan Aku, maka sembahlah olehmu sekalian akan Aku”.(Al-Anbiyâ` : 25).

Syaikhul Islâm Ibnu Taimiyah rahimahullâhu menyatakan: “Ibadah adalah mentaati Allôh dan dengan mencontoh apa-apa yang diperintahkan Allôh padanya melalui lisan para Rasūl”.

Dan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullahu juga menyatakan: “Ibadah adalah nama (aktivitas) yang mencakup setiap perkataan atau berupa perbuatan yang dicintai dan diridhai oleh Allôh yang dhahir maupun batin”.

Ibadah yang diterima oleh Allôh Subhanâhu wa Ta’âlâ adalah ibadah yang hanya dilakukan oleh seorang muslim dengan ikhlâsh dan mutâba’ah (mengikuti) tuntunan Rasūlullâh. Ibadah yang dilakukan dengan tidak ikhlâsh tidak akan diterima oleh Allôh, begitu juga ibadah yang dilakukan tanpa mutâba’ah akan sia-sia. Hal yang pertama: membersihkan niat dari semua kotoran yang akan merusak keikhlâshan dan yang kedua membersihkan ibadah dari semua bid’ah bikinan manusia yang merusak agama.

Para ulama mengatakan ikhlâsh itu adalah membersihkan tujuan taqqarub kepada Allôh dari semua kotoran (syirik). Ikhlâsh ini adalah termasuk amalan hati seperti takut (khauf), pengharapan, tawakkal, raghbah (cinta), rahbah (takut), khusyū`, dan khasyyah (takut).

  1. Khauf artinya perasaan takut akan terjadinya sesuatu yang membinasakan. Khauf ini ada dua macam:

  1. Khauf thabi’i (takut bawaan), seperti manusia takut pada binatang buas, api, dll.

  2. Khauf ibadah, yaitu takut kepada sesuatu yang ia beribadah karena takut kepadanya. Takut yang semacam ini tidak boleh kecuali hanya ditujukan kepada Allôh, sedangkan memalingkannya kepada selain Allôh adalah syirik akbâr. Pada masa sebelum Rasūlullâh sampai sekarang ini banyak sekali orang takut kepada sesuatu yang dianggap keramat atau bertuah atau mempunyai kekuatan ghaib seperti kuburan wali-wali (kyai, ustad, ajengan atau habib), keris, tombak, patung-patung, pohon, batu akik, jimat-jimat, dll, sehingga mereka melakukan pengorbanan dan peribadatan dalam waktu dan cara yang sama sekali tidak disyariatkan oleh Allôh.

  1. Roja’ artinya pengharapan, yaitu keinginan seseorang untuk mendapatkan sesuatu. Pengharapan pada waktu seseorang mengerjakan ibadah tidak boleh kecuali hanya kepada Allôh, dan memalingkannya kepada selain Allôh adalah syirik.

فَمَنْ كَانَ يَرْجُو لِقَاءَ رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلًا صَالِحًا وَلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَدًا

Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya maka hendaklah mengerjakan amal yang shalih dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadah kepada Tuhannya”.(QS Al-Kahfi: 110).

  1. Tawakkal artinya menyandarkan sesuatu kepada sesuatu. Bertawakkal kepada Allôh maknanya adalah menyandarkan kepada Allôh sebagai pencukup dalam mendapatkan manfaat dan menolak mudhârat.

وَعَلَى اللَّهِ فَتَوَكَّلُوا إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ

Dan hanya kepada Allôh hendaknya kamu bertawakkal, jika kamu benar-benar orang yang beriman”.(Al-Mâ`idah: 23).

وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ إِنَّ اللَّهَ بَالِغُ أَمْرِهِ قَدْ جَعَلَ اللَّهُ لِكُلِّ شَيْءٍ قَدْرًا

Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allôh, niscaya Allôh akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allôh melaksanakan urusan (yang dikehendaki)Nya”. (Ath-Thalâq: 3).

Dalam masalah ini banyak sekali orang yang tersesat yaitu mereka bertawakkal kepada selain Allôh dengan cara memakai atau menyimpan benda-benda yang mereka yakini mempunyai kekuatan seperti sabuk, kalung atau gelang yang berisi jimat-jimat, batu akik, keris, dll.

  1. Raghbah yaitu keinginan untuk mencapai sesuatu yang dicintai.

  2. Rahbah yaitu ketakutan yang membuahkan pelarian dari sesuatu yang ditakuti atau takut yang disertai tindakan untuk menanggulangi ketakutannya.

  3. Khusyu’ adalah tunduk merendah kepada keagungan Allôh dengan menyerah kepada semua ketentuan Allôh.

  4. Khasyyah adalah ketakutan yang didasari oleh ilmu tentang keagungan Dzat yang ditakuti dan kesempurnaan kekuasaan, seperti firman Allôh:

إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ إِنَّ اللَّهَ عَزِيزٌ غَفُورٌ

Sesungguhnya yang takut kepada Allôh di antara hamba-hambaNya, hanyalah ulama”. (Fâthir: 28).

Penyakit-penyakit hati yang berkaitan dengan masalah aqidah inilah yang pertama kali harus dibersihkan pada diri seseorang karena penyakit ini, seseorang tidak dapat membedakan yang haq dari yang bâthil, sunnah dari bid’ah, tauhid dari syirik.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam kitabnya Amrâdhul Qulub wa Syifâ’uha mengatakan: “Penyakit hati adalah jenis kerusakan yang menimpanya, penyebab kerusakan pemikiran dan kehendak. Kerusakan pemikiran ini karena adanya syubhat-syubhat (kesamaran-kesamaran) sehingga tidak bisa melihat kebenaran (al-haq) atau dapat melihat kebenaran tapi berlainan dengan apa yang seharusnya ada. Sedangkan kehendaknya (penyakit hati) yaitu membenci kebenaran dan menyukai kebathilan”.

Allôh berfirman:

فِي قُلُوبِهِمْ مَرَضٌ فَزَادَهُمُ اللَّهُ مَرَضًا وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ بِمَا كَانُوا يَكْذِبُونَ

Dalam hati mereka ada penyakit, lalu ditambah Allôh penyakitnya” (Al-Baqarah: 10).

Adakah obat penyakit semacam ini? Jawabnya tentu saja ada, sebab Allôh berfirman:

وَنُنَزِّلُ مِنَ الْقُرْآَنِ مَا هُوَ شِفَاءٌ وَرَحْمَةٌ لِلْمُؤْمِنِينَ وَلَا يَزِيدُ الظَّالِمِينَ إِلَّا خَسَارًا

Dan Kami turunkan dari Al-Qur`ân suatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang- orang yang beriman dan Al-Qur`ân itu tidaklah menambah kepada orang-orang yang zalim selain kerugian”.(Al-Israa’: 82).

Al-Imam Ibnu Katsîr menyatakan dalam tafsirnya:

أي: يذهب ما في القلوب من أمراض، من شك ونفاق، وشرك وزيغ وميل، فالقرآن يشفي من ذلك كله

(Al-Qur`ân) akan menghilangkan penyakit-penyakit yang ada di dalam hati seperti (penyakit) ragu, nifaq (kemunafikan), syirik, dll. Maka Al-Qur`ân akan menyembuhkan semuanya itu”.

Rasūlullâh Shallâllôhu ‘alaihi wa Sallam bersabda:

Allôh tidak menurunkan penyakit kecuali Allôh menurunkan obat untuknya”.(HR. Al-Bukhârî).

Tidak ada yang lain, obat semua penyakit hati (jiwa) adalah ilmu syar’i yaitu ilmu Al-Qur`ân dan As-Sunnah.

Nabi Shallâllôhu ‘alaihi wa Sallam bersabda:

Barangsiapa yang dikehendaki oleh Allôh padanya kebaikan (maka) Allôh akan memahamkannya dalam masalah dîn (agama)”.(HR. Bukhari dan Muslim).

Ibnul Qayîm mengatakan: “Kebodohan itu penyakit yang mematikan, dan obatnya adalah dua perkara yang disepakati dalam satu susunan; yaitu nash dari Al-Qur`ân atau dari As-Sunnah, sedangkan dokter penyakit kebodohan itu adalah orang ‘âlim rabbâni”.

Oleh karena itu setiap orang harus mengobati penyakit (kebodohan) yang dia derita dengan obatnya yaitu ilmu syar’î dan seorang ‘âlim sebagai dokternya dengan mendengarkan hakekat dan petunjuknya.

Sarana – sarana Tazkiyah

Secara umum Tazkiyatun nufus tidak bisa terwujud kecuali dengan amaliah-amaliah yang sesuai dengan syariah. Dalam hal ini, adalah dengan mengikuti syariat Rasūlullâh Shallâllôhu ‘alaihi wa Sallam. Beliau seorang Uswah dian Qudwah yang utama, dan beliau adalah Thabîb Al-Qalb (dokter hati) yang telah mendapat lisensi dari Allôh Subhanâhu wa Ta’âlâ. Sehingga seorang yang melakukan terapi jiwa dengan otaknya sendiri diumpamakan oleh Ibnul Qoyyim bagaikan seorang yang mengobati penyakitnya sendiri dengan sia-sia, sementara ia meninggalkan dokter spesialis, maka keselamatan dan kesempurnaan dalam Tazkiyah tak akan diraih kecuali dengan mencontoh dan menjalani terapi Rasūlullâh Shallâllôhu ‘alaihi wa Sallam. (Lihat : Madârijus Sâlikin juz 2 hal 315)

Di bawah ini beberapa Amaliah atau sarana Tazkiyah yang mujarab dan efektif seperti yang diajarkan Rasūlullâh Shallâllôhu ‘alaihi wa Sallam.

  1. Pembersihan Aqîdah dan penyempurnaan Tauhid

Aqîdah dan Tauhid adalah fondasi kehidupan seorang mu’min dan ia adalah penentu utama ketentraman dan kedamaian jiwa seseorang. Allôh berfirman :

بَلَى مَنْ أَسْلَمَ وَجْهَهُ لِلَّهِ وَهُوَ مُحْسِنٌ فَلَهُ أَجْرُهُ عِنْدَ رَبِّهِ وَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ

Tidak demikian bahkan barang siapa yang menyerahkan diri kepada Allôh, sedangkan ia berbuat kebajikan maka baginya pahala pada sisi Tuhannya dan tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak pula mereka bersedih “. (Al-Baqoroh 112).

Sementara kemusyrikan dan penyimpangan dari syariat Allôh akan menimbulkan kecelakaan dan ketidaktenraman. Allôh Subhânahu wa Ta’âlâ berfirman :

وَوَيْلٌ لِلْمُشْرِكِينَ الَّذِينَ لَا يُؤْتُونَ الزَّكَاةَ وَهُمْ بِالْآَخِرَةِ هُمْ كَافِرُونَ

Kecelakaan yang besarlah bagi orang-orang yang mempersekutukann-Nya, yaitu orang-orang yang tidak menunaikan zakat dan mereka kafir akan adanya kehidupan akhirat”.(Al Fushshilât : 6-7).

Kata-kata “Az-Zakât” pada ayat tersebut menurut imâm Al-Qurthubî adalah Tauhîd Lâ Ilâha Illallôhu” (Tafsir Al-Qurthubî Juz 19 hal 199)

  1. Ibadah yang sempurna kepada Allôh Subhanâhu wa Ta’âlâ

  1. Shalat

Dari Abu Hurairah Radhiyallôhu ‘anhu. Beliau mendengar Rasūlullâh Shallâllôhu ‘alaihi wa Sallam bersabda : “Bagaimana menurutmu kalau ada sebuah sungai di depan rumah salah seorang kamu dan ia mandi disungai tersebut lima kali setiap hari, apakah ia masih mempunyai kotoran?“ Sahabat berkata, “Tidak ada lagi kotoran sedikitpun”. Rasūlullâh Shallâllôhu ‘alaihi wa Sallam bersabda, ”Demikianlah perumpamaan shalat lima waktu yang mana dengannya Allôh membersihkan kesalahan”.

Ibnul Arabiy rahimahullahu berkata : ”Adapun letak kemiripan dari tamsil Rasūlullâh diatas adalah; karena daki dan kotoran tidak akan ada kalau dibasuh dengan air dalam jumlah besar (sungai) apalagi jika dilakukan berulang kali, demikian juga dosa dan kesalahan pasti akan hilang kalau ia selalu dibersihkan dengan sholat.

Sholat yang khusyū’ bukan saja menyucikan jiwa, bahkan akan membahagiakannya dan mengantarkannya menuju keberhasilan. Allôh Subhanâhu wa Ta’âlâ berfirman :

قَدْ أَفْلَحَ الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ هُمْ فِي صَلَاتِهِمْ خَاشِعُونَ

Sungguh beruntung orang-orang mu’min, orang –orang yang khusu’ dalam sholatnya”. (Al-Mu’minūn : 1-2).

B. Infâq, Shodaqoh atau Zakât

Memberikan sebagian harta yang dimiliki apalagi yang dicintai merupakan perbuatan yang berat kecuali bagi orang-orang yang telah ditazkiyah hatinya oleh Allôh Subhanâhu wa Ta’âlâ. Karena itulah diantara hikmah diperintahkannya zakat itu adalah untuk membersihkan jiwa dari kedengkian dan kekikiran. Allôh Subhanâhu wa Ta’âlâ berfirman :

خُذْ مِنْ أَمْوَالِهِمْ صَدَقَةً تُطَهِّرُهُمْ وَتُزَكِّيهِمْ بِهَا وَصَلِّ عَلَيْهِمْ إِنَّ صَلَاتَكَ سَكَنٌ لَهُمْ وَاللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ

Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, karena dengan zakat itu kamu membersihkannya (dari kekikiran) dan mensucikan mereka (dengan kebaikan) dan berdoalah untuk mereka. Sesungguhnya doa kami itu menjadi ketentraman jiwa bagi mereka, dan Allôh maha mendengar lagi maha mengetahui”. (At Taubah 103).

C. Doa dan Dzikir

Dzikrullâh merupakan terapi yang sangat efektif dalam mengobati dan menentramkan jiwa. Apalagi kalau itu dilakukan dengan penuh taqarrub dan khosiyah (tunduk dan takut/harap). Orang yang tidak mau berdzikir dan enggan berdoa menandakan pada jiwanya ada penyakit-penyakit kesombongan. Itu sebabnya Rasūlullâh Shallâllôhu ‘alaihi wa Sallam menganjurkan kita untuk berdoa dalam setiap waktu dan aktivitas. Allôh berfirman :

الَّذِينَ آَمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ

Orang-orang beriman hatinya akan tenang dengan dzikrullah, dan ingatlah hanya dengan dzikrullahlah hatimu akan tenang”. (Ar Ra’du 28)

Dan dzikrullah yang paling utama adalah tilawah (membaca ayat-ayat Allôh) karena Allôh menurunkan Al-Qur`ân diantara fungsinya adalah sebagai As Syifa’ (penawar) dan rahmat bagi orang-orang mu’min (baca Al-Isrâ` : 82).

  1. Meminimalisir dosa dan kemaksiatan

Dosa dan kemaksiatan diibaratkan oleh Rasūlullâh Shallâllôhu ‘alaihi wa Sallam laksana noda-noda hitam yang akan memudarkan qolbu seorang mu’min yang jernih. Kalau tidak segera ditazkiyah dengan taubat kepada Allôh ia akan memekatkan dan menutup mati mata hati itu sendiri sehingga ia akan keras bagaikan batu bahkan bisa lebih keras dari itu (Lihat Al-Baqoroh 74). Dan tidak tertutup kemungkinan kemuliaannya sebagai seorang muslim akan hilang dan jatuh sampai kepada peringkat binatang (baca Al-A’râf 179).

Dari kajian singkat diatas kita bisa menyimpulkan bahwa :

  1. Tazkiyatun Nufūs merupakan kewajiban setiap mu’min untuk mencapai kebaikan dan kesempurnaan jiwanya.

  2. Proses dalam Tazkiyah haruslah sesuai dengan syariah agar tidak seperti “Orang kehausan minum air laut “.

  3. Keberhasilan dan kesuksesan hidup baik di dunia maupun di Akherat tidak akan bisa diwujudkan kecuali dengan jiwa-jiwa yang telah di Tazkiyah (baca Thoha 75-76)

Penutup dan Tausiyah

Terakhir kami berpesan pada pribadi kami juga kepada semua calon-calon mujahid Islâm :

  1. Awali proses Tazkiyah dengan muhâsabah (introspeksi diri), kemudian murôqobah (merasa diawasi) yang ketat. Bila perlu lakukan mu’âqobah (memberi sanksi pada diri) kalau ternyata ada di dalam diri yang berusaha mengurangi apalagi menghapuskan semangat mujâhadah dalam bertazkiyah.

  2. Awasi musuh-musuh eksternal (syaithân/thoghut) dan internal ( hawa nafsu)

  3. Jauhi sifat membual, pesimis, apatis, malas, riya’, sombong dan rendah diri

Semoga bermanfaat tulisan yang ringkas ini. Kita tutup dengan doa kepada Allôh :

اللهم آت نفسي تقواها وزكها أنت خير من زكاها أنت وليها ومولاها (رواه مسلم)

Ya Allôh anugerahkanlah ketakwaan pada jiwaku dan sucikanlah ia, karena Engkaulah sebaik-baik Dzat yang mensucikan dan Engkaulah pemiliknya dan penguasanya.”

Disunting dari Blog : http://abusalma.wordpress.com. Silahkan kunjungi situs ini untuk pencarian artikel lebih lanjut

Written by hilmanmuldani

May 8, 2008 at 8:34 am

Kuliah Online…Oh Kuliah Online…

with 2 comments

Kuliah yang sedang kujalani di Mediu (http://www.mediu.edu.my) ini benar sebuah kuliah yang butuh dengan kerja keras. Karena sistem perkuliahan yang digunakan disini bener2 beda dengan kuliah di tempat lain. Bisa dibilang sistem kuliah yang digunakan adalah sistem kuliah kontemporer, atau yang paling mutakhir atau apa lah, yang intinya sistem perkuliahan disini adalah menggabungkan antara sistem kuliah menggunakan internet dengan sistem klasikal atau tatap muka. Menggunakan sebuah situs Interaktif Sistem Pembelajaran Terpadu yang disingkat dengan ALIMs (Advance Learning Interactive Management system), anda bisa mengaksesnya di sini : http://alim.mediu.edu.my . Anda akan membutuhkan username & password untuk masuk ke situs ini, yang insyaAllah akan anda dapatkan setelah resmi menjadi mahasiswa Mediu

Kalo boleh dibilang, kuliah disini termasuk yang santai, yang saya maksudkan santai disini adalah jadwal pertemuan, baik itu berupa e-consultation (dengan para dosen secara live streaming dari Malaysia), atau Tutorial & Forum termasuk yang jarang. Apalagi didukung dengan adanya 2 Grup yang diperuntukan bagi para mahasiswa yang berasal dari luar kota, yaitu Grup 1&5, semakin mengukuhkan lembaga perkuliahan ini sebagai tempat menuntut ilmu bagi orang yang mempunyai kesibukan segudang. Tapi ini bukan berarti mahasiswa tidak boleh fokus hanya kuliah disini, bukan begitu, bahkan yang diinginkan justru adalah seperti itu, karena dengan fokus insyaAllah manfaat yang bisa diambil dari kampus ini bisa optimal. Karena ada beberapa teman saya seperti amir (mas_gagah12@yahoo.com) yang bener2 baru lulus SMU dan langsung kuliah disini, itu justru bagus. Hanya, yang harus diperhatikan adalah skill bahasa Arab, baik itu secara lisan maupun tulisan. Karena tugas2 kuliah yang diberikan oleh dosen sangat menuntut penguasaan kita dalam menggunakan keyboard arabic. Nah, ini yang harus bener2 dibiasakan oleh seluruh mahasiswa, karena menurut kabar yang valid, insyaAllah ujian akhir nanti atau UAS akan diselenggarakan secara Live juga, yaitu didepan komputer langsung. Ya otomatis dong, qt harus bisa menguasai skill ini secara paripurna, itu saja pesan saya bagi diri sendiri & mahasiswa Mediu pada umumnya

Oiya, perlu diberitahukan bahwa walaupun Mediu ini baru berdiri, tapi kampus ini sudah difasilitasi dengan Area Hotspot yang jangkauannya lumayan luas, hingga apabila anda berjalan ke pinggir jalan di depan Mediu pun saya rasakan Hotspotnya masih kerasa. Jadi, bagi mahasiswa yang bawa laptop, jangan pernah takut akan fekir bendwith :-), insyaAllah disini masih tersedia besar, karena saya dirumah pake Speedy, tapi kok ya kalo dibandingkan kecepatannya dengan diMediu ini jauh lebih cepat saya rasakan

Keunikan kampus ini juga bisa dilihat dari usia mahasiswanya yang sangat bervariasi. Singkatnya, disini bisa anda temukan seorang mahasiswa yang masih pantas untuk jadi anak bagi mahasiswa lainnya, dikarenakan jurang umur yang terjadi dianatara mereka berdua saking lebar&dalamnya. Pokoknya, tak jauh lah dengan kuliah terbuka yang dijalani oleh para guru yang mencari sertifikasi pada zaman2 sekarang (BTW, Ummiy ana juga ikut loh kuliah terbuka ini di Subang)

Jika anda berminat untuk mengikuti perkuliahan ini yang insyaAllah kedepannya juga akan diselenggarakan secara cuma2, maka sebaiknya yang harus anda persiapkan adalah hal-hal dibawah ini :

1. Skill bahasa Arab baik secara lisan maupun tulisan (termasuk penguasaan keyboard Arabic loh)

2. Mempersiapkn persyaratan yang standar seperti Ijazah dll

3. Sanggup untuk melakukan perjalanan jauh bolak-balik (ini khusus bagi orang yang tinggal di luar Jogja ya), yang konsekuensinya sudah pasti yaitu semakin jauh dari Jogja maka akan semakin lelah dalam perjalanannya. Karena anda dituntut untukk hadir setiap minggunya ke Jogja untuk menghadiri Tutorial & Forum. Tapi ada juga ikhwan yang hadir setiap dua minggu sekali, yah…itu sih dikembalikan kepada masing2 individu untuk mengatur jadwal & kegiatannya seperti apa

4. Skill hidup nomaden (ini dikhususkan bagi mahasiswa yang ingin tinggal disini, sudah datang jauh2 dari kampung halaman, qadarullah belum mendapatkan kosan atau tempat tinggal, ya seperti saya ini lah. Jadi intinya adalah untuk sementara harus bisa hidup prihatin, jauh dari orang2 yang qt sayangi, tidak mengapa)

Banyak sekali yang ingin saya bagikan pada kesempatan ini, tapi dikarenakan perut sudah keroncongan, maka alangkah baiknya apabila saya pergi keluar mencari makan. Karena disini saya informasikan, bahwa syarat utama bagi anda yang sudah memilih untuk hidup (baik sementara maupun permanen) secara nomaden adalah fisik yang kuat, tidak rapuh, tidak gampang sakit, dll. Secara gitu loh, anda tinggal jauh dari orang2 yang anda sayangi, istilahnya sekarang ini anda sebatang kara lah, maka klo anda jatuh sakit, maka siapa yang bisa merawat anda, qt hanya bisa mengandalkan diri sendiri saja apabila itu terjadi. Maka dari itu, saya nasihatkan bagi orang2yang nomaden seperti saya ini, jangan sampai telat makan, telat tidur, atau telat apapun, terutama yang paling penting adalah Jangan sampai telat mandi! Karena sebatang kara apapun hidup anda, tetap orang2 yang ada di sekeliling anda mempunyai hidung yang walaupun tingkat penciuman mereka berbeda2, intinya qt harus menghormati orang lain juga kan? Maka dari itu, wasiat saya kali ini adalah : Mandilah, sebelum mandi itu dilarang…

Ditulis dalam masa kehidupan berburu & meramu di padang Jogjakarta yang Alhamdulillah tidak begitu gersang, tetapi justru sarat akan pengalaman berharga & layak untuk diabadikan

Written by hilmanmuldani

May 8, 2008 at 12:47 am

Posted in Kuliah

Tagged with , , ,

First Post!!!

leave a comment »

Bismillahi Rahmani Rahiim

Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Mari kita ramaikan dunia per-Blog-an dengan semangat dakwah dan saling nasihat menasihati dalam kebenaran & kesabaran. Semoga bermanfaat. Amin

Oiya, skalian juga nih dalam kesempatan yang pertama ini saya akan menuliskan sedikit tentang rangkuman muhadharah Ustadz Yazid yang saya dengar dari http://www.radiorodja.com , coba deh kunjungi situs tersebut untuk mendengarkan radio streaming Rodja, yang mengudara dari Bumi Cileungsi. Selamat menyimak!

Inti dari ceramah beliau pada kesempatan ini adalah tentang bahaya lisan. Ada dua jenis bahaya lisan yang paling bahaya daripada jenis bahaya-bahaya yang lainnya, yaitu : Berbicara pembicaraan yang Bathil, dan Diam daripada Kebenaran. Permisalan dari para ulama untuk jenis yang pertama adalah Syaithan yang banyak bicara, dan untuk jenis yang kedua adalah Syaithan yang bisu. Maka berhati2lah qt dari 2 jenis kategori berbahaya ini, mudah2an qt tdk termasuk kedalam salah satunya, apalagi kedua2nya. Amin

Mari qt tutup First Post ini dengan do’a kaffaratul Majelis : Subhanakallahumma wabihamdika asyhadu alla ilaha illa anta astaghfiruka wa atubu ilaiik…

Written by hilmanmuldani

May 7, 2008 at 7:49 am

Posted in Khulasoh

Tagged with , ,

Hello world!

with one comment

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!

Written by hilmanmuldani

May 7, 2008 at 6:41 am

Posted in Uncategorized