Layla’s Father Weblog

Lets Back To The Fahm Of Shahabah

Archive for the ‘Kuliah’ Category

Tentang FreeMasonry

leave a comment »

Begini ceritanya, kemarin Dr. Ssuna Salim, Dosen Ghazwul Fikri bertanya kepada qt tentang gerakan ini, terutama hubungannya dengan Kekhalifahan Turki Utsmani, kenapa gimana gituh, lupa lagi. Abiss, beliau ngomongnya cepet banget terus berhubung dengan kondisi koneksi internet di Indonesia yang sering putus2 gituh, yah dengan sangat terpaksa kami tidak bisa menjawab pertanyaan beliau(alaaaah, bilang aja emang ga tau jawabannya, susah amit sich:-)) Trus, ya alhamdulillah dapet artikel ini di milis Mediu, isinya tentang penjelasan FreeMasonry dalam bahasa Indonesia, bahasa persatuan, karena ga mungkin dunkz saya menulis postingan ini dalam bahasa Arab, berhubung bahasa ini masih asing di peradaban indonesia qt pada masa2 sekarang ini. Ya weis, selamat menyimak aja deh…

<!– DIV {margin:0px;}–>

Mengenal Firqah-Firqah Yahudi

FREEMASONRY

Freemasonry secara bahasa terdiri dari dua kata, Free dan Mason. Free artinya merdeka dan mason artinya tukang bangunan. Dengan demikian Freemasonry secara etimologis berarti “tukang-tukang bangunan yang merdeka”.

Secara hakikat, Freemasonry atau Al-Masuniyyah (dalam bahasa Arab) adalah sebuah organisasi Yahudi Internasional bawah tanah yang tidak ada hubungannya dengan tukang-tukang bangunan yang terdapat pada abad pertengahan.

Freemasonry di atas juga tidak ada hubungannya dengan kegiatan pembangunan kapal atau katedral besar seperti yang banyak diduga oleh sebagian orang. Tetapi maksud Freemasonry di sini adalah tidak terikat dengan ikatan pihak manapun kecuali sesama freemason.

Freemasonry berasal dari gerakan rahasia yang dibuat oleh sembilan orang Yahudi di Palestina pada tahun 37 M, yang dimaksudkan sebagai usaha untuk melawan pemeluk Masehi, dengan cara pem­bunuhan terhadap orang per-orang.

Me­nu­rut buku Kabut-kabut Freemasonry, salah seorang yang disebut sebagai pendirinya adalah Herodes Agrida I (meninggal 44 M). Ia dibantu oleh dua orang Yahudi, Heram Abioud dan Moab Leomi. Freemasonry selanjutnya menempatkan dirinya sebagai musuh terhadap agama Masehi maupun Islam.

Pada tahun 1717 M gerakan rahasia ini melangsungkan seminar di London di bawah pimpinan Anderson. Ia secara formal menjabat sebagai kepala gereja Protestan, namun pada hakikatnya adalah seorang Yahudi. Dalam seminar inilah gerakan rahasia tersebut memakai nama Freemasonry sebagai nama barunya. Sebagai pendirinya adalah Adam Wishaupt, seorang tokoh Yahudi dari London, yang kemudian mendapatkan dukungan dari Albert Pike, seorang jenderal Amerika (1809-1891).

Organisasi ini sulit dilacak karena struktur­nya sangat rahasia, teratur, dan rapi. Tujuan gerakan Freemasonry secara umum adalah:

1. Menghapus semua agama.

2. Menghapus sistem keluarga.

3. Mengkucarkacirkan sistem politik dunia.

4. Selalu bekerja untuk menghancurkan kesejahteraan manusia dan merusak kehidupan politik, ekonomi, dan sosial negara-negara non-Yahudi atau Goyim (sebutan dari bangsa lain di luar Yahudi).

Tujuan akhir dari gerakan Freemason adalah mengembalikan bangunan Haikal Sulaiman yang terletak di Masjid Al-Aqsha, di kota Al-Quds (Yerussalem), mengibarkan bendera Israel, serta mendirikan pemerintahan Zionis Internasional, seperti yang diterapkan dalam Protokol para cendekiawan Zionis.

Buku Protokol ini berisikan langkah-langkah yang telah ditetapkan oleh para hakkom, catatan pembicaraan yang dilakukan di dalam setiap rapat mereka, serta berisikan 24 bagian (ayat) yang mencakup rencana politik, ekonomi, dan keuangan, dengan tujuan menghancurkan setiap bangsa dan pemerintahan non-Yahudi, serta menyiapkan jalan penguasaan bagi orang-orang Yahudi terhadap dunia Internasional.

Dalam gerakannya, Freemasonry menggunakan tangan-tangan cendekiawan dan hartawan Goyim, tetapi di bawah kontrol orang Yahudi pilihan. Hasil dari gerakan ini di antaranya adalah mencetuskan tiga perang dunia, tiga revolusi (Revolusi Perancis, Revolusi Amerika, dan Revolusi Industri di Inggris), melahirkan tiga gerakan utama (Zionisme, Komunisme, dan Nazisme)

Freemansory terbagi ke dalam tiga tingkatan:
(1) Majelis Rendah atau Freemansory Simbolis;
(2) Fremansory Majelis Menengah; dan
(3) Fremansory Majelis Tinggi.

Dalam penerimaan keanggotaan, Freemasonry tidak mempersoal­kan agama calon anggota. Bahkan calon anggota disumpah sesuai dengan agama yang dianutnya. Dalam Freemasonry diadakan model kenaikan pangkat hingg level ke-33 bagi orang-orang Goyim. Orang-orang yang berhasil dijaring kemudian diberikan tugas untuk menyebarkan paham Freemasonry dan bekerja untuk mereali­sasikan tujuannya.

Orang-orang tertarik kepada Freemasonry karena mereka menganggap bahwa organi­sasi ini bergerak di bidang kemanusiaan. Di balik itu mereka menanamkan doktirn “Pengembangan Agama” atau “Polotisme”, yang mengatakan semua agama itu sama, baik, dan benar. Lebih jauh Freemasonry dengan secara halus membawa anggotanya memahami Atheisme.

Peranan Freemasonry dalam Meruntuhkan Khilafah Turki Utsmani

Dalam usaha menguasai Palestina, selain strategi langsung menemui Sultan Abdul Hamid II, penguasa terakhir Daulah Turki Utsmani yang paling terkemuka.. Kaum Yahudi-Zionis juga melancarkan strategi tidak langsung melalui gerakan Freemansory. Gerakan ini memiliki hubungan yang sangat kuat dengan organisasi “Ittihat ve Terrakki” (Al-Ittihad wa At-Tarraqqi; Persatuan dan Kemajuan) yang berkembang sangat pesat di Salonika, Yunani.

Anggota-anggota Komite Persatuan dan Kemajuan, yang dikenal sebagai kelompok Turki Muda (Young Turks), diketahui sangat dekat dengan militer dan banyak anggota-anggotanya yang merupakan orang Yahudi (Jews) dan Cryto Jews Salonika. Untuk menjalankan roda organisasi, mereka mendapatkan dukungan finansial dari orang-orang Dunama, yaitu sekelompok Yahudi yang masuk Islam, namun secara diam-diam tetap mempertahankan keyahudiannya.

Komite Persatuan dan Kemajuan sesuai dengan program utamanya yang dipublikasi­kan, berusaha kuat menekan Sultan Abdul Hamid II untuk memberlakukan kembali Konstitusi 1879 yang dirancang oleh Midhat Pasha seorang Dunama anggota Freemasonry. Usaha ini berhasil sehingga Sultan Abdul Hamid II memberlakukan kembali perlembagaan 1879 dan membentuk kembali parlemen yang sudah dibubarkan.

Pemberlakuan kembali perlembagaan 1879 telah menyulut kerusuhan yang terjadi pada tanggal 13 April 1909 yang menunjukkan penolakan masyarakat yang mayoritas Muslim terhadap kekuasaan Komite Persatuan dan Kemajuan sekaligus wujud kebencian terhadap Freemasonry, terutama dari kalangan ulama. Para ulama menilai bahwa perlembagaan 1879 dapat membawa Khilafah Utsmaniyah ke arah sekularisme dan pemberangusan terhadap syariat Islam.

Untuk “memulihkan ketertiban”, para pejabat militer Macedonia mengirimkan pasukan Harekat Ordusu dari Salonika.

Akan tetapi pasukan yang dipimpin oleh Dunama-Freemason bernama Ramzy Bey ini malah berbalik menyerang kedudukan Sultan dan menghancurkan barikade-barikade pertahanan para penentang konstitusi. Akibat peristiwa ini kemudian dipecatnya Sultan Abdul Hamid II dari kedudukannya sebagai Sultan-Khalifah oleh parlemen.

Terhadap peristiwa pemecatan ini, Sultan Abdul Hamid II menuding kelompok Yahudi sebagai pihak yang bertanggung jawab. Hal ini terungkap dalam surat Sultan Abdul Hamid II kepada salah seorang gurunya, Syekh Mahmud Abu Syamad, yang berbunyi:

“…Saya meninggalkan kekhalifahan bukan karena suatu sebab tertentu, melainkan karena tipu daya dengan berbagai ancaman dari tokoh-tokoh Organisasi Persatuan yang dikenal dengan sebutan Cun Turk (Jeune Turk), sehingga terpaksa saya meninggalkan kekhalifahan itu. Sebelum­nya, organisasi ini telah mendesak saya berulang-ulang agar menyetujui dibentuknya sebuah negeri nasional bagi bangsa Yahudi di Palestin. Saya tetap tidak menyetujui permohonan berulang-ulang yang memalukan ini. Akhirnya mereka menjanji­kan uang sebesar 150 juta poun­sterling emas. Saya tetap dengan tegas meno­lak tawaran itu. Saya menjawab dengan kata-kata,

~ Seandainya kalian membayar dengan seluruh isi bumi ini, aku tidak akan menerima tawaran itu. Tiga puluh tahun lebih aku hidup mengabdi kepada kaum Muslimin dan kepada Islam itu sendiri. Aku tidak akan mencoreng lembaran sejarah Islam yang telah dirintis oleh nenek moyangku, para Sultan dan Khalifah Uthmaniah. Sekali lagi aku tidak akan menerima tawaran kalian ~

Setelah mendengar dan mengetahui sikap dari jawaban saya itu, mereka dengan ke­kuatan rahsia yang dimiliki memaksa saya menanggalkan kekhalifahan, dan mengan­cam akan mengasingkan saya di Salonika. Maka terpaksa saya menerima keputusan itu daripada menyetujui permintaan mereka.

Saya banyak bersyukur kepada Allah, ka­rena saya menolak untuk mencoreng Daulah Utsmaniyah, dan dunia Islam pada umum­nya dengan noda abadi yang diakibatkan oleh berdirinya negeri Yahudi di tanah Palestina. Biarlah semua berlalu. Saya tidak bosan-bosan mengulang rasa syukur kepada Allah Ta’ala, yang telah menyelamatkan kita dari aib besar itu. Saya rasa cukup di sini apa yang perlu saya sampaikan dan sudilah anda dan segenap ikhwan menerima

salam hormat saya. Guruku Yang Mulia, mungkin sudah terlalu banyak yang saya sampaikan. Harapan saya, Anda beserta jamaah yang Anda bina bisa memaklumi semua itu.

Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

22 September 1909

ttd
Pelayan Kaum Muslimin,

Abdul Hamid bin Abdul Majid
(Carr, 1991:21)

Penurunan Sultan Abdul Hamid II dari kedudukannya sebagai Sultan-Khalifah menandai berkuasanya Komite Persatuan dan Kemajuan secara langsung dalam pemerintahan Uthmaniah. Untuk melempangkan kekuasaan­nya, maka kemudian Komite Persatuan dan Kemajuan mengambil garis tegas untuk menjalankan ide Turanisme (Nasionalisme Turki) di berbagai bidang.

Sementara itu, pada tanggal 21 November terjadi perjanjian antara Inggris dan Turki untuk membahas penyelesaian masalah Turki. Dalam kesempatan tersebut Inggris mengaju­kan syarat-syarat agar pasukannya dapat ditarik dari wilayah Turki, yang dikenal dengan “Perjanjian Luzon”, yaitu:

1. Turki harus menghapuskan Khilafah Islamiyah serta mengusir khalifahnya dan menyita semua harta kekayaannya.

2. Turki harus berjanji untuk menghalangi setiap gerakan yang membela kekhalifahan.

3. Turki harus memutuskan hubungannya dengan dunia Islam.

4. Turki harus menerapkan hukum sipil sebagai pengganti hukum Daulah Utsmaniyah yang bersumberkan Islam.

Persyaratan tersebut diterima oleh Musthafa Kamal dan perjanjian ditandatangani pada tanggal 24 Juli 1923. Dan akhirnya, setelah melalui perdebatan alot dan tekanan pada tanggal 3 Maret 1924, Majlis Raya Nasional menghapus jabatan Khalifah, dan khalifah waktu itu, Sultan Abdul Majid II diusir ke luar negeri.

Penghapusan khilafah ini kemudian diikuti dengan pemberangusan segala unsur Islam dalam masyarakat. Dari mulai penutupan dan pengalihfungsian masjid-masjid, pelarangan penggunaan bahasa Arab, tulisan Arab dan pakaian Muslim, hingga penghapusan Mah­kamah Syariah dan perubahan penanggalan ke kalender Masehi. Dengan demikian berakhirlah Khilafah Turki Utsmani yang telah dipertahankan selama sekitar 640 tahun.

Prestasi Musthafa Kamal Attaturk, agen Freemasonry dalam menghapuskan Khilfah Turki Utmani tersebut sangat dibanggakan oleh Freemasonry, hingga disebutkan dalam Ensiklopedi Freemasonry:

“Revolusi Turki (yang dimulai) pada tahun 1918 yang diprakarsai oleh saudara yang mulia Mustafa Kamal Attaturk sangat me­ngun­tungkan rakyat, melenyapkan ke­kuasaan Sultan, memberantas Khilafah, menghi­langkan Mahkamah

Syariat, menyingkirkan perananan agama Islam, dan menghapuskan kementerian Wakaf (Agama). Bukankah semua ini meru­pakan pembaruan yang dike­hen­daki Freemasonry dalam setiap bangsa yang sedang bangkit? Siapakah di antara tokoh Freemasonry yang dapat menandingi Attaturk, baik dulu maupun sekarang?” (Al-Kailani, 1992: 190).

Wallahu a’lam.

Disadur dari email Gunawan Wibisono di Milis Mediu : mediufeb08@googlegroups.com, yang entah dari mana Gunawan menyadurnya. Wallahu A’lam

Written by hilmanmuldani

May 16, 2008 at 7:00 am

Kuliah Online…Oh Kuliah Online…

with 2 comments

Kuliah yang sedang kujalani di Mediu (http://www.mediu.edu.my) ini benar sebuah kuliah yang butuh dengan kerja keras. Karena sistem perkuliahan yang digunakan disini bener2 beda dengan kuliah di tempat lain. Bisa dibilang sistem kuliah yang digunakan adalah sistem kuliah kontemporer, atau yang paling mutakhir atau apa lah, yang intinya sistem perkuliahan disini adalah menggabungkan antara sistem kuliah menggunakan internet dengan sistem klasikal atau tatap muka. Menggunakan sebuah situs Interaktif Sistem Pembelajaran Terpadu yang disingkat dengan ALIMs (Advance Learning Interactive Management system), anda bisa mengaksesnya di sini : http://alim.mediu.edu.my . Anda akan membutuhkan username & password untuk masuk ke situs ini, yang insyaAllah akan anda dapatkan setelah resmi menjadi mahasiswa Mediu

Kalo boleh dibilang, kuliah disini termasuk yang santai, yang saya maksudkan santai disini adalah jadwal pertemuan, baik itu berupa e-consultation (dengan para dosen secara live streaming dari Malaysia), atau Tutorial & Forum termasuk yang jarang. Apalagi didukung dengan adanya 2 Grup yang diperuntukan bagi para mahasiswa yang berasal dari luar kota, yaitu Grup 1&5, semakin mengukuhkan lembaga perkuliahan ini sebagai tempat menuntut ilmu bagi orang yang mempunyai kesibukan segudang. Tapi ini bukan berarti mahasiswa tidak boleh fokus hanya kuliah disini, bukan begitu, bahkan yang diinginkan justru adalah seperti itu, karena dengan fokus insyaAllah manfaat yang bisa diambil dari kampus ini bisa optimal. Karena ada beberapa teman saya seperti amir (mas_gagah12@yahoo.com) yang bener2 baru lulus SMU dan langsung kuliah disini, itu justru bagus. Hanya, yang harus diperhatikan adalah skill bahasa Arab, baik itu secara lisan maupun tulisan. Karena tugas2 kuliah yang diberikan oleh dosen sangat menuntut penguasaan kita dalam menggunakan keyboard arabic. Nah, ini yang harus bener2 dibiasakan oleh seluruh mahasiswa, karena menurut kabar yang valid, insyaAllah ujian akhir nanti atau UAS akan diselenggarakan secara Live juga, yaitu didepan komputer langsung. Ya otomatis dong, qt harus bisa menguasai skill ini secara paripurna, itu saja pesan saya bagi diri sendiri & mahasiswa Mediu pada umumnya

Oiya, perlu diberitahukan bahwa walaupun Mediu ini baru berdiri, tapi kampus ini sudah difasilitasi dengan Area Hotspot yang jangkauannya lumayan luas, hingga apabila anda berjalan ke pinggir jalan di depan Mediu pun saya rasakan Hotspotnya masih kerasa. Jadi, bagi mahasiswa yang bawa laptop, jangan pernah takut akan fekir bendwith :-), insyaAllah disini masih tersedia besar, karena saya dirumah pake Speedy, tapi kok ya kalo dibandingkan kecepatannya dengan diMediu ini jauh lebih cepat saya rasakan

Keunikan kampus ini juga bisa dilihat dari usia mahasiswanya yang sangat bervariasi. Singkatnya, disini bisa anda temukan seorang mahasiswa yang masih pantas untuk jadi anak bagi mahasiswa lainnya, dikarenakan jurang umur yang terjadi dianatara mereka berdua saking lebar&dalamnya. Pokoknya, tak jauh lah dengan kuliah terbuka yang dijalani oleh para guru yang mencari sertifikasi pada zaman2 sekarang (BTW, Ummiy ana juga ikut loh kuliah terbuka ini di Subang)

Jika anda berminat untuk mengikuti perkuliahan ini yang insyaAllah kedepannya juga akan diselenggarakan secara cuma2, maka sebaiknya yang harus anda persiapkan adalah hal-hal dibawah ini :

1. Skill bahasa Arab baik secara lisan maupun tulisan (termasuk penguasaan keyboard Arabic loh)

2. Mempersiapkn persyaratan yang standar seperti Ijazah dll

3. Sanggup untuk melakukan perjalanan jauh bolak-balik (ini khusus bagi orang yang tinggal di luar Jogja ya), yang konsekuensinya sudah pasti yaitu semakin jauh dari Jogja maka akan semakin lelah dalam perjalanannya. Karena anda dituntut untukk hadir setiap minggunya ke Jogja untuk menghadiri Tutorial & Forum. Tapi ada juga ikhwan yang hadir setiap dua minggu sekali, yah…itu sih dikembalikan kepada masing2 individu untuk mengatur jadwal & kegiatannya seperti apa

4. Skill hidup nomaden (ini dikhususkan bagi mahasiswa yang ingin tinggal disini, sudah datang jauh2 dari kampung halaman, qadarullah belum mendapatkan kosan atau tempat tinggal, ya seperti saya ini lah. Jadi intinya adalah untuk sementara harus bisa hidup prihatin, jauh dari orang2 yang qt sayangi, tidak mengapa)

Banyak sekali yang ingin saya bagikan pada kesempatan ini, tapi dikarenakan perut sudah keroncongan, maka alangkah baiknya apabila saya pergi keluar mencari makan. Karena disini saya informasikan, bahwa syarat utama bagi anda yang sudah memilih untuk hidup (baik sementara maupun permanen) secara nomaden adalah fisik yang kuat, tidak rapuh, tidak gampang sakit, dll. Secara gitu loh, anda tinggal jauh dari orang2 yang anda sayangi, istilahnya sekarang ini anda sebatang kara lah, maka klo anda jatuh sakit, maka siapa yang bisa merawat anda, qt hanya bisa mengandalkan diri sendiri saja apabila itu terjadi. Maka dari itu, saya nasihatkan bagi orang2yang nomaden seperti saya ini, jangan sampai telat makan, telat tidur, atau telat apapun, terutama yang paling penting adalah Jangan sampai telat mandi! Karena sebatang kara apapun hidup anda, tetap orang2 yang ada di sekeliling anda mempunyai hidung yang walaupun tingkat penciuman mereka berbeda2, intinya qt harus menghormati orang lain juga kan? Maka dari itu, wasiat saya kali ini adalah : Mandilah, sebelum mandi itu dilarang…

Ditulis dalam masa kehidupan berburu & meramu di padang Jogjakarta yang Alhamdulillah tidak begitu gersang, tetapi justru sarat akan pengalaman berharga & layak untuk diabadikan

Written by hilmanmuldani

May 8, 2008 at 12:47 am

Posted in Kuliah

Tagged with , , ,